HIDUP DENGAN HATI NURANI YANG MURNI

Bacaan: Kisah Para Rasul 23:1
Kunci Sukses:
Hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia
Memperdalam Akar Iman:
“Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” (Kisah Para Rasul 24:16)
Dalam bahasa Yunani, istilah hati nurani berasal dari kata ouvεldηoεla (baca: syneidesei), di mana kata tersebut berasal dari kata dasar Yunani suneido yang berarti saya mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipelajari atau dipikirkan, melainkan lebih mengandalkan hubungan emosional atau berempati dengan orang lain. Atau turut merasakan secara emosional ketika orang lain menceritakan sesuatu yang dialaminya kepada kita. Tepatnya orang yang hidup dengan mengandalkan intuisi adalah mereka yang tidak terlalu tertarik dengan teori.
Dengan demikian, hati nurani dalam pengertian bahasa Yunani dapat disamakan dengan intuisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu: dipahami sebagai kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat membaca situasi yang dengan pengasahan indra (apa yang dilihat dan dirasakan) kemudian dengan kemampuan intelektualnya berusaha memahami suatu peristiwa dari berbagai sudut pandang secara logis dan juga emosional.
Sebenarnya hati nurani berasal dari Allah yang telah menjadikan manusia pertama menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kejadian 1:26-27), sehingga hati nurani sesungguhnya adalah refleksi dari gambar dan rupa Allah tersebut di dalam diri datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam
manusia sebelum jatuh dalam dosa. Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, hati nurani tidak lagi berpusat kepada Tuhan Allah yang adalah Bapa bagi manusia (Yesaya 64:8). Sebaliknya, hati nurani menjadi berpusat kepada manusia sehingga hati nurani menjadi perasaan yang tidak berpusat kepada kebenaran Allah (di dalam Alkitab) melainkan berpusat kepada manusia yang menafsirkan kebenaran Alkitab menurut kebutuhan manusia itu sendiri (Kejadian 3:4-7). Jadi, manusia tidak lagi hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah sebagaimana yang dikatakan rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 23:1 ini. Atau dalam pengertian yang Alkitabiah, hati nurani ialah kesadaran yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial (yang berpusat kepada manusia) karena telah jatuh dalam dosa (Kejadian 3:5-6) sehingga manusia bukan lagi makhluk spiritual sebagaimana Allah adalah Roh (Yohanes 4:24) sehingga hati nurani harus berpusat kepada Kristus (Filipi 1:21).
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-26; Ibrani 10
****
Renungan harian lainnya

BERSYUKUR UNTUK DARAH PERJANJIAN
May 30, 2026

JANGAN HIDUP DALAM KEKUATIRAN
May 29, 2026

PENYEMBAHAN
May 28, 2026


