RENCANA ALLAH LEWAT ORANG BIASA

RENCANA ALLAH LEWAT ORANG BIASA

Bacaan: 2 Samuel 15:32–17:23

Kunci Sukses:
Rencana dan rancangan Tuhan tidak ditentukan oleh martabat dan keberadaan kita, melainkan oleh hati yang memiliki kemauan.

Memperdalam Akar Iman:
“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” (1 Korintus 1:27)

Dalam sejarah bangsa Israel, nama Husai jarang disebut. Ia bukan panglima perang seperti Yoab, bukan nabi seperti Natan, dan bukan penasihat utama seperti Ahitofel. Husai hanyalah seorang “sahabat Daud”. Namun, ketika Daud berada dalam krisis akibat pemberontakan Absalom, justru melalui Husailah, rencana Allah dinyatakan. Ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak selalu memakai orang yang besar secara duniawi. Ia seringkali memakai orang biasa untuk tujuan yang luar biasa.

Ketika Daud melarikan diri dari Yerusalem, ia bertemu Husai di puncak bukit. Husai ingin ikut mengungsi bersama Daud. Namun Daud meminta Husai kembali ke kota dan menyamar sebagai sahabat Absalom. Ia bersedia untuk taat tanpa syarat, tidak membantah bahkan bersedia mengambil risiko besar demi Daud. Husai harus berada di pihak yang salah secara lahiriah, demi kebenaran yang lebih besar.

Sementara itu, ada Ahitofel yang memberi nasihat cerdik kepada Absalom untuk mengejar Daud tanpa membuang waktu. Jika nasihat itu dilaksanakan, Daud akan binasa. Namun Allah mengizinkan Husai menyampaikan nasihat lain yang terdengar lebih masuk akal bagi Absalom: “kumpulkan seluruh pasukan Israel, lalu serang Daud bersama-sama.” Alhasil, ada waktu yang diberikan kepada Daud untuk melarikan diri dan mempersiapkan diri. Ahitofel memang cerdas, tetapi Tuhan menggagalkan rencananya melalui Husai, orang biasa, yang menjadi saluran pembatalan rencana yang jahat.

Terkadang, Tuhan memanggil kita untuk tetap setia di lingkungan yang tidak mendukung iman kita—di tempat kerja, di kampus, atau di tengah keluarga—karena di sanalah rencana-Nya sedang dikerjakan. Mungkin kita tidak sehebat orang lain, bahkan terkadang mungkin kita merasa hanya seseorang yang biasa-biasa saja. Namun, jangan merasa rendah diri, sebab rencana dan rancangan Tuhan tidak ditentukan oleh martabat dan keberadaan kita, melainkan oleh hati yang memiliki kemauan. Amin.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 5-6; 2 Tesalonika 1


Renungan harian lainnya